Askep Keluarga Dengan Hipertensi

Thursday, October 22nd, 2015 - Askep, Askep Komunitas

I. Latar Belakang

Hipertensi merupakan salah satu masalah  kesehatan yang banyak dijumpai di berbagai negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Penyakit ini di sinyalir telah membunuh 9,4 juta warga dunia setiap tahunnya. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang semakin besar. Pada tahun 2025 yang akan datang,  diperkirakan ada sekitar 29 persen warga dunia terkena hipertensi. Prosentase penderita hipertensi paling banyak di jumpai di negara-negara berkembang. Dari data Global Status Report on Noncommunicable Disesases 2010 keluaran WHO di sebutkan bahwa terdapat 40 persen negara berkembang memiliki penderita hipertensi, sedangkan di negara maju hanya di dapat angka yang lebih rendah yakni sekitar 35 persen.

Negara-negara di kawasan Afrika memegang posisi puncak penderita hipertensi yakni 46 persen,  sementara di kawasan Amerika menempati posisi buncit dengan 35 persen. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, 36 persen orang dewasa menderita hipertensi. Sedangkan data yang ada pada tahun 2008 menunjukkan bahwa di Indonesia angka penderita hipertensi mencapai 32 persen dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7 persen, sedangkan 39,2 persen wanita. Sementara  data Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2007 menyebutkan, propinsi dengan angka prevelansi paling tinggi ditempati Kepulauan Natuna dengan 53,3 persen, sebaliknya  posisi buncit ditempati Propinsi Papua Barat dengan angka prevalensi 6,8 persen.

askep keluarga hipertensi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Budi Darmojo bahwa Pada saat ini di Indonesia terdapat 1,8-28,6 % penduduk yang berusia > 20 tahun adalah penderita hipertensi dan pada umumnya berkisar antara 6 – 10  % yang didasarkan pada data penelitian yang dilakukan oleh Budi Darmojo. Di provinsi Jawa Timur angka kesakitan  penyakit hipertensi pada tahun 1998 –1999 sekitar 12,42 % (Data Provil). Sedangkan berdasarkan dari laporan bulanan di puskesmas Mojo dari bulan Januari 1998 hingga bulan Desember 1999 pasien yang berkunjung ke Puskesmas Mojo adalah 19,13 % menderita hipertensi dan pada tahun  2000 meningkat menjadi 47,1%. Dari data sederhana tersebut  dapat memberikan gambaran bahwa masalah penyakit hipertensi khususnya di puskesmas Mojo perlu mendapat pengamatan, pengawasan serta perawatan yang komprehensip.

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko primer yang menyebabkan penyakit jantung dan stroke, biasa disebut juga sebagai The Shilent Disease karena sering tidak ditemukan tanda-tanda fisik yang dapat dilihat (Gede Yasmin : 1991).  Kalangan ahli kesehatan banyak yang beranggapan bahwa hipertensi lebih tepat disebut sebagai Heterogenus Group of Disease dari pada single disease. Hipertensi yang tidak tekontrol ini akan menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh seperti otak, ginjal, mata dan jantung serta kelumpuhan anggota gerak. Namun kerusakan yang paling sering adalah  gagal  jantung dan stroke serta gagal ginjal (Susi Purwati  : 2000). Untuk menghindari hal ini diperlukan pengamatan secara dini.

Untuk mencegah komplikasi akibat hipertensi ini diperlukan perawatan dan pengawasan yang baik. Banyak kasus yang di temukan penderita dan kematian akibat penyakit kardiovaskuler dapat dicegah dengan merubah perilaku kebiasaan yang kurang sehat. Contohnya dengan menghindari mengkonsumsi makanan yang menyebabkan terjadinya hipertensi, berolah raga secara teratur serta merubah kebiasan hidup lainnya yang dapat mencetus terjadinya penyakit hipertensi seperti merokok dan minum-minuman beralkohol. Adapun faktor dietik dan kebiasaan makan makanan yang mempengaruhi  tekanan darah diantaranya cara mempertahankan berat badan ideal, kandungan natrium klorid, kalium, kalsium, magnesium, lemak dan alkohol. (Dr. Wendra  Ali  1996  : 3, 20, 21).

Jika dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi ini, maka mungkin dapat timbul beberapa masalah  diantaranya  :

  1. Ketidakpatuhan diet rendah garam dan rendah lemak.
  2. Perubahan fisiologi penderita (misalnya mudah marah dan tersinggung)
  3. Resiko terjadinya komplikasi bagi penderita.
  4. Sumber daya keluarga kurang.
  5. Kondisi ekonomi (misalnya pengeluaran bertambah banyak dan berkurangnya pendapatan).

Dalam pelaksanaan tugas–tugas kesehatan, peran keluarga sangat penting dalam pemeliharaan kesehatan bagi anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi. Freedmen (1981) membagi dalam beberapa peran yang dapat dilakukan keluarga yaitu : mengenal gejala hipertensi, mampu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat untuk menolong penderita hipertensi, mampu memberikan asuhan keperawatan pada anggota  keluarga yang menderita hipertensi dalam mengatasi masalahnya, meningkatkan produktivitas keluarga  dalam meningkatkan mutu hidup anggota keluarga yang menderita penyakit  hipertensi.

Untuk mencapai tujuan perawatan kesehataan keluarga yang optimal, peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan. Beberapa peran perawat dalam membantu keluarga yang anggota keluarganya menderita penyakit hipertensi antara lain : mampu mengenal asuhan keperawatan pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi, peran sebagai pengamat masalah dan kebutuhan keluarga, sebagai koordinator pelayanan kesehatan, sebagai fasilitator, sebagai pendidik kesehatan, sebagai penyuluh dan konsultan dalam asuhan  perawatan dasar pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi.

Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai  berikut  :

1    Mengapa prevalensi penyakit hipertensi tiap tahun meningkat.

2    Bagaimana peran keluarga dalam membantu mengatasi masalah yang salah satu anggotanya menderita penyakit hipertensi.

3    Bagaimana peran perawat puskesmas dalam mengarahkan dan membantu keluarga yang anggotanya menderita penyakit hipertensi.

4    Bagaimana perawat membuat asuhan keperawatan pada keluarga yang  menderita penyakit hipertensi.

 

II. Batasan Masalah

Karena banyak aspek dan ruang lingkup yang dapat ditemukan  dari masalah diatas serta keterbatasan penulis dalam hal tenaga, kemampuan, pengalaman, keterampilan, pengetahuan, dan waktu, maka penulis membatasi permasalahan hanya pada bagaimana asuhan keperawatan yang baik dan benar pada keluarga yang salah satu anggotanya menderita penyakit hipertensi dengan masalah nutrisi melalui proses pendekatan keperawatan.

Untuk membaca secara lebih lengkap dan  jelas, rekan-rekan dapat mendownload askep keluarga hipertensi melalui link di bawah ini :

Askep Keluarga Dengan Hipertensi

Askep Hipertensi Pada Lansia

Askep Keluarga Dengan Hipertensi | askep | 4.5